Pada akhirnya, semuanya bukan lagi perihal memiliki.
—
Gadis itu duduk seorang diri di dalam kelas sembari menatap ke layar ponselnya.
Entah aktifitas apa yang harus ia lakukan di sekolah barunya ini. Tak ada seorang pun yang ia kenal, dan mungkin tak ada seorang pun yang mau mengenalnya. Bahkan banyak siswa-siswi yang menjauhinya. Hal ini membuatnya tak bisa melakukan hal lain selain duduk di kelasnya. Mau ke kantin atau perpustakaan pun rasanya sangat berat, karena semua mata akan tertuju padanya dengan tatapan sinis.
Jadi, gadis berkulit putih bernama Marsha yang memiliki bola mata berwarna coklat terang itu hanya bisa duduk sambil meng- scroll instagram di ponselnya.
Tak lama kemudian, ia berhenti meng- scroll instagramnya ketika menemukan sebuah berita yang sudah muak ia baca dan dengar dari dua Minggu lalu.
Kasus Korupsi Rudi Darmawan, Ketua Dewan Kesejahteraan Rakyat.
Ya, Rudi Darmawan adalah ayah Marsha. Dan hal inilah yang membuatnya dibenci dan dijauhi oleh siswa-siswi di sekolah barunya ini. Padahal yang bersalah adalah ayahnya, dan ia sendiri tidak tahu apa-apa tentang perbuatan ayahnya. Namun ia sadar, inilah resiko dan kenyataan yang harus ia terima sebagai anak seorang koruptor.
Marsha pun hanya bisa menghela dan mengembuskan napas kasar meratapi nasibnya.
“Sepatunya bagus, ya. Paling dari duit haram.” Suara itu terdengar dari deretan bangku belakang.
Namun Marsha hanya diam, bahkan tak menoleh sama sekali. Ia tahu, jika ia menoleh ia hanya akan menjadi bulan-bulanan untuk diejek.
“Semoga bokapnya membusuk di penjara!”
Darrr!!! Marsha yang tak tahan lagi dengan perkataan mereka pun memukul mejanya, namun tak berbalik sama sekali. Ia justru menundukkan wajahnya, dan air matanya mulai menetes ke meja yang ia pukul.
Hal itu membuat kumpulan gadis-gadis penggibah di belakang menjadi diam. Pandangan mata siswa-siswi yang ada di kelas pada jam istirahat saat itu pun tertuju pada Marsha. Namun gadis itu tak mempedulikan semua mata yang memandang ke arahnya. Ia tahu, meskipun sedang menangis dan hancur seperti ini, tak akan ada yang peduli.
Satu-satunya hal yang dapat Marsha lakukan saat ini hanyalah membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang berada di atas meja dan memendam semua rasa sakit hati yang ia rasakan. Tak ada gunanya melawan, ia tak akan bisa menang melawan suara mayoritas. Ia hanya sendiri.
Dan juga, apa yang bisa dilakukan oleh sampah masyarakat sepertinya?
—
Bel pulang sekolah yang ditunggu-tunggu berbunyi, siswa-siswi beramburan dari kelasnya masing-masing dan berbondong-bondong bergerak menuju ke gerbang sekolah.
Namun Marsha hanya berjalan pelan, membiarkan siswa-siswi lain mendahuluinya. Langkah kakinya seperti tak memiliki semangat, dan tatapannya terlihat kosong.
Jika bukan karena ibu dan kakaknya, mungkin ia sudah tak ingin lagi sekolah. Karena saat ini baginya sekolah adalah neraka tempat di mana ia di siksa dari semua sisi.
Dengan langkah yang pelan dan hati-hati ia berjalan menuju ke gerbang sekolah. Namun ada saja beberapa siswa-siswi yang dengan sengajanya menubruk tubuh kecil Marsha dengan keras untuk membuat Marsha kesakitan.
Brukk!!!
“Ooopss, maaf!” Kata seorang gadis bertubuh tinggi langsing bernama Nadin yang dengan sengaja menabrak dan membuat Marsha jatuh berlutut di lantai koridor.
“Bisa berdiri sendiri, kan?” tanya Nadin dengan alis yang terangkat.
Tanpa menjawab, Marsha segera bangkit berdiri dan merapikan roknya.
Brukk!!!
“Eh, nggak kelihatan!”
Lagi-lagi, seseorang dengan sengaja menabrak dan membuat Marsha jatuh berlutut. Kali ini yang melakukannya adalah Livi, sahabat Nadin yang sebelumnya juga menabrak dan menjatuhkan Marsha dengan sengaja.
Livi kemudian berdiri di samping Nadin sambil melipat tangannya di bawah dadanya.
“Bisa berdiri sendiri, kan? Soalnya gue malas pengang tangan kotor Lo, maaf ya,” kata Livi terkekeh.
Marsha hanya diam dengan posisi jongkok. Kali ini lututnya sediki lecet karena dijatuhkan dengan sengaja sebanyak dua kali oleh dua nenek lampir yang merasa diri mereka adalah penguasa dan orang tercantik di sekolah ini.
Jujur saja, hati Marsha sangat hancur karena perlakuan orang-orang padanya. Sungguh seberat inikah balasan yang harus ia tanggung akibat perbuatan ayahnya?
Lagi-lagi, air mata Marsha menetes ke lantai. Ia bisa saja berdiri, namun ia tak mau. Ia tak mau berdiri dan berhadapan dengan Nadin dan Livi yang bisa saja semakin menghancurkan mentalnya.
Namun tiba-tiba saja, seseorang memegang lengannya dan menariknya untuk membuatnya berdiri.
“Berdiri!” kata seorang cowok yang tiba-tiba saja datang dan mengangkatnya.
“Lo nggak pantes berlutut sambil nangis,” ucap cowok itu. “Apalagi di depan mereka,” sambung cowok itu.
Seketika saja Marsha tersentak dan matanya terpaku pada cowok itu. Seorang cowok bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang yang memiliki tatapan tegas dan alis yang tebal. Siapa cowok itu?
“Wih, ada pahlawan, nih? Haha.” Nadin bertepuk tangan, diikuti oleh Livi yang juga bertepuk tangan sambil tertawa mengejek.
“Si penerima duit haram, disemangatin sama si nggak punya duit,” kata Nadin, kemudian ia memajukan wajahnya ke telinga cowok yang menolong Marsha itu. “Dibayar berapa pakai duit haram?” bisik Nadin kepada cowok itu.
Perkataan itu tentu saja membuat cowok itu emosi, namun syukurnya ia sudah terbiasa dan terlatih dengan perkataan-perkataan yang merendahkannya seperti itu.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, cowok itu menggenggam tangan Marsha dan menariknya pergi dari sana. Sikap cowok itu yang mengacuhkan Nadin dan Livi sudah cukup untuk membuat dua nenek lampir itu kesal.
–
“Untung gue selalu bawa kotak P3K ini di tas gue,” ucap cowok itu sembari membersihkan luka lecet di lutut Marsha dengan alkohol dan Betadine. Ya bingung juga sih kenapa si bambang, eh maksudnya cowok itu tiap hari membawa kotak P3K.
Cowok itu membawa Marsha ke taman sekolah untuk diobati lututnya yang sedikit lecet.
Marsha duduk di atas sebuah kursi panjang, dan cowok yang tadi menolongnya berjongkok di depannya sambil mengobati lututnya yang sedikit lecet.
“Nggak sakit, kan?” tanya cowok itu dengan tatapan mata yang hanya fokus pada luka lecet Marsha yang sedang ia obati.
“Enggak.”
“Kuat juga Lo, ya.” Cowok itu tertawa pelan.
“Mau nggak mau harus kuat, kalau Marsha nggak kuat kasihan mama sama kakak,” batin Marsha. Ia menghembuskan napas kasar, namun berusaha untuk tersenyum.
“Udah beres.”
“Makasih, ya,” ucap Marsha.
Cowok itu menengadahkan wajahnya ke atas, ke arah tatapan mata Marsha.
Sebuah senyum tipis terbit di bibir cowok itu. “sama-sama.”
Cowok itu kemudian memasukkan kembali kotak P3Knya ke dalam tas, lalu setelah itu ia duduk di samping Marsha.
“Lo Marsha, kan? Siswi baru di sekolah ini,” tanya cowok itu.
“Semua orang kayaknya tau siapa gue,” kata Marsha. Ia memang murid baru di sekolah ini. Ia terpaksa pindah dari sekolah lamanya karena jarak yang jauh dari rumah barunya di pinggiran kota. Kasihan juga jika tiap Marsha harus berangkat sekolah pagi-pagi benar dan menempuh jarak yang jauh untuk ke sekolah.
“Hmm, mungkin begitu. Tapi gue seneng bisa kenal sama Lo, karena kan kebanyakan orang cuma tau Lo, tapi nggak kena,” kata cowok itu.
Marsha menoleh ke arah cowok itu. “Emang Lo udah kenal gue?”
“Iya.” Cowok itu menjawab.
“Kita baru ketemu, mana mungkin bisa langsung kenal. Kenal itu nggak sesimpel ketemu,” jelas Marsha.
“Gitu, ya?” Cowok itu menatap Marsha dengan alis tebalnya yang terangkat.
“Iya. Butuh waktu yang lama buat Lo bisa kenal sama seseorang.”
“Kalau gitu, OTW,” ucap cowok itu melemparkan pandangannya ke depan, ke arah bunga-bunga yang ada di depan mereka.
“Maksudnya?” Marsha menatap cowok itu dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
“Suatu saat gue akan mengenal Lo.” Cowok itu kembali menolehkan wajahnya ke arah Marsha.
Marsha mengernyitkan dahinya.
“Jadi mungkin gue butuh waktu yang lama untuk berada di sekitar Lo, supaya gue bisa kenal sama Lo,” kata cowok itu tersenyum.
Jujur saja, senyumnya manis, sehingga tanpa sadar Marsha pun ikut tersenyum ketika melihatnya.
Di momen itu, tanpa sadar mereka saling tatapan-tatapan dan saling melempar senyum. Namun tiba-tiba saja mereka disadarkan kembali oleh suara ponsel Marsha yang berbunyi.
“Kakak gue.”
Marsha pun segera mengangkat telpon dari kakaknya itu . Setelah selesai, ia segera menutup sambungan telponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke kantong bajunya.
“Dijemput sama kakak?” tanya cowok itu.
“Iya.”
“Ya udah, hati-hati.”
Marsha berdiri. Ia melihat ke arah lututnya, di sana menempel sebuah plester luka berwarna hijau terang.
“Makasih, ya. Gue pergi dulu,” ucap Marsha.
“Iya. Besok, kita ketemu lagi,” kata cowok itu.
Marsha tersenyum. Setelah itu, ia pun pergi.
Satu hal yang lupa untuk Marsha tanyakan adalah siapa nama cowok itu?
—
Apakah dengan bertindak sebagai pahlawan, bisa mengubah takdir cinta yang sudah tertulis?
—
Halo fellas, thank you udah baca part ini. Untuk part selanjutnya ditunggu ya secepatnya (besok atau lusa). Dijamin bakalan suka sama ceritanya, Kalau gak suka nanti dapat nomor WA nya author sebagai permintaa maaf wkwk. Canda.
Btw, temen2 juga bisa follow Instagram @hazelwritings.id biar bisa tahu update cerita ini. Atau kalau mau gas ke Instagram author langsung di @hazelpasuhuk hehe
Thank you, and see you in the next part of this stories🙌❤️